Jual Beli Tanah Harus Memperhatikan Panduan Berikut Ini Agar Aman

Transaksi jual beli tanah tidak bisa terpisahkan dengan aspek hukum. Dalam kegiatan jual beli tanah, Anda perlu beberapa surat perjanjian, tidak seperti jual beli di pasar atau supermarket.

Hal tersebut dipengaruhi oleh harga yang jauh lebih tinggi dari transaksi jual beli alat rumah tangga atau sembako. Selain itu, tanah juga memerlukan sertifikat kepemilikan yang sah sebagai bukti bahwa tanah tersebut berpindah hak milik.

Tips Jual Beli Tanah

Untuk itu, Anda memerlukan bantuan notaris atau PPAT (Pejabat Pembuat Akta Tanah) dalam kepengurusan kepemilikan tanah.

Sering terjadi pula pembelian tanah tanpa sertifikat atau bodong. Ada pula kasus duplikasi sertifikat asli. Maka untuk keamanan dan kenyamanan jual beli tanah, Anda harus berhati-hati. Terutama factor legalitas hukum.

Banyak orang yang melakukan transaksi penjualan tanah namun baru sebagian orang yang paham mengenai tata cara menjual dan membeli tanah tersebut. Padahal hal itu sangat penting. Tata cara jual beli tersebut harus dilakukan oleh kedua belah pihak, yaitu penjual dan pembeli tanah.

Nah, tata cara jual beli tanah dapat Anda lakukan setelah terjadi kesepakatan antara penjual dan pembeli. Beberapa langkah yang harus Anda tempuh adalah sebagai berikut :

Menyiapkan persyaratan

Berkas-berkas yang diperlukan oleh penjual adalah berikut ini :

  1. Sertifikat kepemilikan tanah yang akan dijual (asli);
  2. KTP (Kartu Tanda Penduduk);
  3. Bukti pembayaran PBB (Pajak Bumi dan Bangunan);
  4. Bagi yang sudah berkeluarga, wajib menyertakan Surat Persetujuan Suami/Istri (akta kematian jika suami/istri sudah meninggal);
  5. KK (Kartu Keluarga).

Berkas-berkas yang diperlukan oleh pembeli adalah :

  1. KTP (Kartu Tanda Penduduk);
  2. KK (Kartu Keluarga).

Kemudian penjual dan pembeli harus mendatangi Kantor PPAT (Pejabat Pembuat Akta Tanah) untuk membuat AJB (Akta Jual Beli) tanah dengan membawa persyaratan seperti di atas.

Nah, dalam pembuatan AJB Anda perlu melewati beberapa proses dan persiapan.

Proses tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Sebelum membuat AJB (Akta Jual Beli), PPAT akan mengecek keaslian sertifikat tanah berdasarkan peta pendaftaran, surat ukur, daftar tanah, dan buku tanah. Pengecekan sertifikat tanah tersebut dilakukan di kantor BPN. Ketentuan tersebut sesuai Pasal 34 PP No. 24 Tahun 1997.
  2.  Apabila harga jual tanah lebih dari 60 juta rupiah, maka penjual harus membayar Pajak Penghasilan (PPh). Pembayaran bisa dilakukan di bank yang ditunjuk.
  3. Sertakan surat pernyataan yang berisi bahwa pembeli hanya berhak memiliki tanah yang telah ditentukan dan tidak melebihi batas maksimum.
  4. Di samping itu, penjual juga harus membuat surat pernyataan bahwa tanah yang dimiliki tidak dalam sengketa. Apabila tanah yang akan dijual sedang dalam sengketa, maka PPAT berhak menolak pembuatan AJB.

Adapun syarat-syarat pembuatan AJB (Akta Jual Beli) yakni sebagai berikut :

  1. Pembuatan AJB harus dihadiri oleh penjual dan calon pembeli tanah (jika berhalangan hadir, maka bisa diwakilkan oleh orang yang diberi kuasa dengan surat kuasa tertulis).
  2. Pembuatan akta juga wajib dihadiri oleh minimal dua orang saksi.
  3. PPAT membacakan isi akta jual beli dan menjelaskan maksud pembuatan akta tersebut.
  4. Nah, bila isi akta telah dimengerti dan disetujui oleh penjual dan calon pembeli tanah, maka selanjutnya akta tersebut harus ditandatangani oleh pihak penjual, pihak pembeli, saksi-saksi serta PPPAT.
  5. AJB dibuat dua lembar asli. Lembar satu disimpan di Kantor PPAT dan lembar lainnya diberikan ke Kantor BPN untuk keperluan balik nama kepemilikan tanah.
  6. Selain itu, AJB harus dibuat salinannya dan diberikan kepada penjual dan pembeli tanah.

Setelah pembuatan AJB beres, PPAT kemudian menyerahkan berkas AJB ke Kantor BPN. Di kantor BPN tersebut akan di proses mengenai balik nama kepemilikan tanah. Penyerahan AJB dilaksanakan paling lambat tujuh hari sejak ditandatanganinya akta oleh pihak terkait tersebut.

Sementara berkas yang harus diserahkan ke Kantor BPN untuk keperluan balik nama sertifikat adalah:

  1. Surat permohonan balik nama dari pembeli yang sudah ditandatangani;
  2. AJB dari PPAT;
  3. Sertifikat hak atas tanah;
  4. KTP penjual dan pembeli;
  5. Bukti pelunasan Pajak Penghasilan (PPh);
  6. Bukti pelunasan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan.

Pihak BPN akan memberikan tanda bukti penerimaan permohonan balik nama kepada PPAT setelah berkas tersebut disampaikan ke kantor BPN. Selanjutnya tanda bukti penerimaan tersebut diserahkan kepada pihak pembeli melalui PPAT. Anda hanya perlu menunggu 14 hari untuk mengambil sertifikat yang baru dengan nama pemilik yang baru di kantor BPN.

Dengan begitu selesailah sudah proses jual beli tanah. Tata cara di atas dilakukan untuk legalitas kepemilikan tanah sekaligus sebagai jaminan atas tanah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *